Keampuhan Minyak Kelapa

Oleh: Iwan T. Budiarso, DVM., M.Sc., Ph.Dr., APU

indosiar.com – Minyak kelapa, seperti dimaklumi sudah digunakan secara turun-menurun dan terus-menerus selama berabab-abab oleh nenek moyang kita bahkan sampai sekarang masih tetap digunakan oleh penduduk pedalaman dan pedesaan dimana pohon kelapa tumbuh subur dan merupakan sumber bahan makanan fungsional utama dan hasil pertanian mereka.

Minyak Sehat Laitco

Minyak Goreng Kelapa Laitco, lebih jernih, sehat, dan hemat

Minyak yang berasal dari keluarga pohon kelapa seperti Minyak Kelapa (Cocus nucifera), Minyak Sawit (Elaeis guineensis) dan Minyak Palm (Elaeis guineensis) adalah minyak yang paling sehat dan paling aman dibandingkan dengan minyak goreng golongan Minyak Sayur seperti Minyak Jagung, Minyak Kedele, Minyak Biji Bunga Matahari dan Canola (ke-4 jenis minyak ini mudah didapat di Indonesia dan lazim dijual di pasar dan supermarkets).

Dari ke-3 jenis minyak asal keluarga pohon kelapa, minyak kelapa mutunya adalah yang paling tinggi berdasarkan pada besarnya kadar asam lemak jenuh dan asam laurat (antimikroba) yang terkandung seperti umpamanya kadar asam lemak jenuh dalam minyak kelapa adalah 92%, minyak sawit 86% dan minyak palm hanya 51%. Sedangkan jenis minyak sayur, umpamanya minyak kedele kadar asam lemak jenuhmya 15%, minyak jagung 13%, minyak biji bunga matahari 11% dan canola hanya 7% (J.B.Reeves Dkk, 1979, Tabel 1).

Selanjutnya minyak asal keluarga pohon kelapa mengandung antimikroba alami yang poten seperti asam laurat (lauric acid), kadarnya dalam minyak kelapa 48% (hampir setara Air Susu Ibu = ASI kadarnya 50%), asam kaprilik (caprilic acid) kadarnya 8% dan asam kaprik (capric acid) kadarnya 7% (Bruce Fife ,2003). Sedangkan minyak sayur (jagung, kedele, biji bunga matahari dan canola) tidak mengandung jenis antimikroba ini sama sekali.

Asam laurat pertama kali ditemukan dalam minyak kelapa oleh Prof. DR. Jon J Kabara, dari Department of Chemistry and Pharmacology, Michigen State University, Amerika pada tahun 1960-an. Dan sudah dibuktikan dapat membunuh berbagai jenis mikroba yang membran selnya asal asam lemak (lipid coated microorganism) seperti umpamanya HIV, Hepatitis C, Herpes, Influensa, Cytomegalovirus, Streptoccocus sp. Staphiloccocus sp, Gram positive dan Gram negative, Helicobacter pyroli, Kandida (Tabel 2). Dan asam kaprilik adalah fungisida yang ampuh untuk mengobati infeksi jamur Kandida (keputihan pada wanita, Bruce Fife 2003).

Minyak sawit memang dapat mencegah proses aterioskelosis dan menurunkan kolesterol. Namun minyak kelapa mutunya lebih tinggi daripada minyak sawit. Hal ini dikarenakan minyak kelapa mengandung asam lemak jenuh lebih tinggi (92%) daripada minyak sawit (86%,JB Reeves Dkk, 1979. Tabel 1), hingga dalam proses pencernaan dan mentabolismenya akan menghasilkan energi yang mutunya lebih tinggi (ibarat bensin, berkadar oktan lebih tinggi). Sehingga efeknya terhadap metabolisme jaringan sel, serta fungsi dan aktifitas semua kelenjar endokrin dan organ tubuh labih optimal.

Laporan hasil penelitian dalam 1 dekade terakhir ini telah membuktikan bahwa tidak semua asam lemak jenuh itu sama sifatnya. Asam lemak jenuh asal keluarga pohon kelapa dikategorikan dalam asam lemak jenuh rantai karbon sedang (medium chain fatty acids = MCFA, jumlah atom karbon kurang dari 16), sedangkan asam lemak jenuh asal minyak hewani dan minyak sayur digolongkan sebagai asam lemak jenuh rantai karbon panjang (long chain fatty acids = LCFA, jumlah karbon atom 18 atau lebih) sehingga secara fisiologis dan biologis efeknya terhadap kadar kolesterol darah pun berbeda pula.

Sekarang sudah dibuktikan, justru asam lemak tak jenuh rantai karbon panjang (LCFA) bukan saja merupakan biangkeladi utama penyebab kadar kolesterol darah tinggi, tetapi juga dapat menyebabkan kekentalan darah, tekanan darah tinggi, ateriosklerosis, penyakit jantung koroner, serangan jantung, stroke, kencing manis, obesitas, kanker dsb. Penjelasan secara komprehensif adalah sebagai berikut:

Proses Pencernaan dan Metabolisme Asam Lemak

Minyak kelapa yang mengandung 92% asam lemak jenuh rantai sedang (Tabel 1). Setelah dikonsumsi, sesampainya di dalam saluran cerna, karena ukuran molekulnya kecil (medium size), segera dapat diserap melalui dinding usus, tanpa harus mengalami proses hidrolisa dan enzimatika, dan langsung dipasok ke dalam aliran darah dan dibawa ke dalam organ hati untuk dimetabolisir. Di dalam hati minyak kelapa ini diproses untuk memproduksi energi saja dan bukan kolesterol dan jaringan adiposa.

Dan energi yang dihasilkan untuk meningkatkan pembakaran seluler dari ujung rambut sampai ujung kaki dan mengaktifkan fungsi semua kelenjar endokrin, organ tubuh dan jaringan tubuh. Sedangkan minyak sawit karena kadar asam lemak jenuhnya lebih rendah daripada minyak kelapa (86%), dengan sendirinya energi yang dihasilkan juga lebih rendah.

Sedangkan minyak sayur (kedele, jagung, biji bunga matahari, dan canola) yang mengandung 87-93% asam lemak tak jenuh, karena ukuran molekulnya besar-besar (long size). Setelah dikonsumsi, sesampainya di dalam usus, tidak bisa segera diserap seperti pada minyak kelapa. Dia harus diproses dan diuraikan dahulu menjadi unit asam-asam lemak bebas ukuran kecil (free small units fatty acids) melalui proses hidrolisa dan emulsi dengan bantuan cairan empedu, dan proses enzimatik dengan enzim asal kelenjar pankreas.

Setelah diuraikan menjadi unit-unit asam lemak bebas (free fatty acids units) inilah baru bisa diserap melalui dinding usus dan ditampung di dalam saluran getah bening (lymphatic lacteal ducts). Uraian unit-unit asam lemak bebas tersebut lalu disusun kembali dan ditambah senyawa protein menjadi chylomicron atau lipoprotein. Lipoprotein yang terbentuk inilah kemudian dipasok ke dalam aliran darah dan diangkut ke hati. Di dalam hati lipoprotein ini dimetabolisir dan produknya adalah energi, kolesterol dan lemak. Ketiga unsur ini lalu didistribusikan ke seluruh kelenjar endokrin, organ tubuh dan jaringan tubuh sampai habis semuanya. Dan sisa lemak ditimbun di jaringan adiposa.

Jadi, semua jenis minyak sayur akan berakhir di dalam tubuh sebagai energi, kolestrol dan timbunan jaringan lemak. Kedua senyawa yang terakhir, yakni kolesterol dan lemak, inilah yang menjadi faktor risiko dan penyebab berbagai penyakit seperti darah kental, kolesterol, tekanan darah tinggi, penyempitan pembuluh darah (arteriosklerosis), serangan jantung, stroke, obesitas, kencing manis, kanker dll. Bandingkan dengan minyak kelapa yang hanya menghasilkan energi saja dan bukan kolesterol dan jaringan adiposa!

Hal lain yang belum banyak diketahui masyarakat adalah kalau minyak kelapa digunakan untuk menggoreng (deep fried), struktur kimianya tidak akan berubah sama sekali, karena 92% terdiri dari asam lemak jenuh (saturated fatty acids), jadi ia tetap stabil dan tahan terhadap pemanasan. Sebaliknya semua jenis minyak sayur karena mengandung asam lemak tak jenuhnya sangat tinggi antara 82-93% (Tabel 1), maka menjadi sangat peka terhadap pemanasan. Oleh karena itu, jikalau dipakai untuk menggoreng deep fried akan mengalami proses polimerisasi (penggumpalan) dan jelantahnya menjadi kental seperti oli mobil.

Hal ini disebabkan karena jelantahnya mengandung lemak trans (trans fatty acids). Dan lemak trans terkenal bersifat radikal bebas dan karsinogenik. Jadi gabungan dari unsur lemak trans yang radikal bebas, zat karsinogen, kolesterol dan timbunan jaringan adiposa (asal hasil pencernaan dan metabolisme) inilah yang menjadi dasar faktor utama risiko dan penyebab berbagai jenis penyakit kronis, degeneratif dan kanker yang sekarang sedang mewabah di seluruh dunia tanpa mengenal batas umur, gender dan suku!.

Selama dasar penyebabnya (lemak trans, kolesterol, timbunan adiposa dan karsinogen) yang dikonsumsi sedikit demi sedikit tetapi secara terus menerus ditabung setiap hari di dalam jaringan tubuh tidak disingkirkan, maka cara pengobatan yang hebat dan canggih apa pun hanya untuk sementara meredam gejalanya saja, tetapi bukan menyembuhkan seperti apa yang dikatakan Prof. Dr. Yokie Newa (1997) dalam bukunya “Drugs do not cure disease” tetapi sebaliknya “Free radiclas invite death” (Newa, 1999).

Penelitian Epidemiologi

Minyak kelapa (kelentik), seperti dimaklumi sudah digunakan secara turun-menurun dan terus-menerus selama berabab-abab oleh nenek moyang kita bahkan sampai sekarang masih tetap digunakan oleh penduduk pedalaman dan pedesaan dimana pohon kelapa tumbuh subur dan merupakan sumber bahan makanan fungsional utama dan hasil pertanian mereka. Secara umum status kesehatan mereka sangat bagus, fisiknya nampak langsing dan kekar, rambutnya tebal, kulitnya berkilau dan indah, geliginya kuat dan bagus-bagus dan jarang mengalami penderitaan penyakit kronis, degeneratif dan kanker bila dibandingkan dengan penduduk asli yang sudah hengkang dari desanya dan beralih profesi serta tinggal di kota-kota besar dan metropolitan serta beralih juga ke makanan campuran ala Barat.

Itu semua adalah hasil pengamatan dan penelitian Dr. Weston A. Price, seorang dokter gigi yang ahli peneliti dan ahli gizi, dari Clevland, Ohio, Amerika Serikat, yang telah membuktikan hal tersebut dengan melakukan penyidikan dan penelitian secara epidemiologis selama kurang lebih 8 tahun (1930-1938), pada penduduk masyarakat pedalaman yang tinggal di deretan pulau-pulau pasifik yang terbentang mulai dari kepulauan Hawai terus sampai dengan pulau-pulau yang terletak didekat Selandia Baru.

Penduduk dari pulau-palau ini mempunyai kebiasan tradisional yang hampir sama yaitu masih mempertahankan makanan tradisional sebagai makanan fungsional utama (functional tradition staple foods) ialah buah kelapa, baik dagingnya, santannya maupun minyaknya dipergunakan sebagai bahan adonan utama menu makanan mereka sehari-hari sama seperti zaman nenek-moyang mereka dengan dicampur taro, akar umbi-umbian, sayur-sayuran, nasi dan ikan laut.

Ternyata keadaan status kesehatan dan gizi mereka jauh lebih baik daripada penduduk asli yang sudah pindah ke kota-kota besar. Hasil penelitian epidemiologis ini telah dibukukan dan diterbitkan pada tahun 1938 dengan judul “Nutrition and Physical Degeneration”. Buku ini sampai sekarang masih tetap dicetak ulang dan digunakan oleh para peneliti dalam bidang gizi sebagai buku pegangan.

Apakah Asam Lemak Tak Jenuh buruk terhadap kesehatan ?

Ya. Hasil penelitian pada babi percobaan yang diberi makanan yang mengandung asam lemak tak jenuh (minyak kedele dan jagung), disamping mengalami kegemukan dan obesitas, darahnya juga menjadi lebih kental (stickiness) dan pada otopsi ditemukan banyak babi yang pembuluh darahnya mengalami arteriosklerosis (penyempitan pembuluh darah). Sebaliknya babi yang diberi pakan dengan campuran minyak kelapa tidak menjadi gemuk, melainkan jadi langsing dan daging karkasnya tidak mengandung lemak (lean meat)(Dr. Bruce Fife, 2002).

Demikian pula hasil penelitian pada manusia yang diberi campuran asam lemak tak jenuh (lemak trans) dalam dietnya, menunjukkan kadar kolesterol dan LDLnya meningkat, sedangkan kadar HDL menurun (New England Journal of Medicine, August 1990). Hasil penelitian ini dikukuhkan oleh tim peneliti dari negeri Belanda. Pada tahun 1992 penelitian yang sama diulangi di Laboratorium Gizi USDA, Amerika Serikat (Human nutrition Laboratory of USDA) juga melaporkan hasil yang sama (Enig, 2002).

Selanjutnya dalam majalah yang bergengsi; The New England Journal of Medicine, November 20, 1997, melaporkan hasil penelitian mereka selama 14 tahun pada sukarelawan perawat yang berjumlah lebih dari 80.000 orang, dimana tercatat 939 kali kejadian serangan jantung. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa peserta yang mengkonsumsi paling tinggi asam lemak tak jenuh (lemak trans) dalam dietnya, kemungkinan untuk mendapatkan serang jantung adalah lebih dari 53% dibanding dengan peserta yang hanya mengkosumsi asam lemak tak jenuh (lemak trans) rendah dalam dietnya.

Dengan demikian, lemak trans yang diperoleh dari hasil pengorengan minyak sayur, margarin dan shortening adalah bersifat free radicals dan karsinogenik. Dan dampak buruknya terhadap kesehatan orang dewasa (penyakit kronis, degeneratif dan kanker) baru terjadi setelah 5-20 tahun kemudian. Sebaliknya efek samping yang timbul pada anak-anak dan remaja adalah relatif cepat dengan gejala yang mencolok, yakni; kegemukan dan obesitas.

Kejadian ini sekarang mudah terlihat pada anak-anak golongan menengah ke atas yang tinggal di kota-kota besar yang keranjingan menyantap junkfoods, ayam goreng, kentang goreng, pop-corn, pizza. donat, Oreo, kreker, biskuit, snacks dll yang digoreng dan atau diolah dengan minyak sayur, margarin dan shortening.Kejadian ini sudah melanda di Amerika Serikat, dan tidak kurang dari 60% golongan anak dan remaja mengalami obesitas dan morbid obesitas. Obat-obat patent (allopathic) tidak bisa menyembuhkan keracunan lemak trans atau free radicals, malah sebaliknya lemak trans bisa membunuh kita (Drugs do not cure disease, Yokie Newa, 1997 dan Free Radicals invite death, Yokie Newa 1999). Sebaliknya menggoreng dan atau mengolah makanan dengan minyak kelapa adalah yang paling aman dan paling sehat, karena hanya menghasilkan energi, bukan kolesterol dan jaringan adiposa dan tidak pula menghasilkan lemak trans atau radikal bebas.

The Best Cooking Oil

Di cari Agen di daerah

Minyak Kelapa Mempunyai Nilai Tambah Tinggi Untuk Ekspor Komoditi

Memang pada saat ini minyak sawit diproduksi secara besar besaran, baik di Malaysia maupun Indonesia, dan mempunyai pasaran yang cukup bagus, tetapi nanti dalam 10 tahun mendatang, minyak kelapa akan memegang peran yang lebih potensial. Karena mutu dan khasiat minyak kelapa jauh lebih baik daripada minyak sawit, karena bisa berfungsi ganda yakni sebagai minyak goreng kualitas tinggi dan sebagai antimikroba yang potensial. Oleh karena itu alangkah baiknya, baik Pemerintah maupun pihak swasta, untuk mempertimbangkan, memprioritaskan dan mengalakkan kebon kelapa, sebab kebon kelapa dalam jangka panjang akan lebih menguntungkan daripada kebon sawit.

Minyak kelapa yang diekstrak dari buah kelapa segar (bukan copra) dan diproses secara dingin (tanpa pemanasan) disebut cold expelled virgin coconut oil (CEVCO) yang sekarang sedang naik daun di pasaran Amerika Serikat dan Eropa. Karena mempunyai sifat dwifungsi yakni sebagai minyak goreng kualitas tinggi dan sebagai obat antimikroba yang poten, hingga mempunyai nilai tambah yang tinggi daripada minyak sawit. Sampai saat ini belum ada pabrik minyak sawit yang bisa memproduksikan minyak sawit yang bentuk cold expelled. Saat ini Amerika mengimpor CEVCO dari Fillipins. Bilamana pabrik minyak kelapa di Indonesia, disamping membuat minyak kelapa tradisional dan bisa membuat juga yang bentuk CEVCO, sudah barang tentu bisa bersaing dengan Fillipins dan bisa menghasilkan devisa yang tidak kecil. Jadi prospek minyak kelapa bentuk CEVCO sebagai ekspor komoditi jauh lebih cerah dan lebih mengantungkan..(Idh)

======================================

* Iwan T. Budiarso, DVM., M.Sc., Ph.Dr., APU (Ahli Terapi Urin dan Minyak Kelapa Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran. Universitas Tarumanagara)

Daftar Kepustakaan :

1.            Anonymus.: Waspada lemak trans pada makanan ringan, Republika 31 Mei 2003
2.            Dayrit, Conrado S.: Coconut oil in health and disease: Its and monolaurin’s potential as cure for HIV/Aids. Paper read at the XXXVII Cocotech Meeting, Chennai, India, Ju;y 25, 2000
3.            Enig, G. Mary, :Know Your Fats, The Complete Primer For Understanding The Nutrition of Fats, Oils, and Cholesterol, Bathesda Press, 2000
4.            Fife, Bruce,:. The Healing Miracles of Coconut Oil, 3rd edition, 2003, Piccadilly Books Ltd
5.            Fife, Bruce,: Eat Fat Look Thin, A Safe and Natural Way to Lose Weight Permanently, HealthWell Publications.. 2002
6.            Khomsan, Ali,: Isue lemak trans dan kesehatan, Kompas, 23 Juni 2004
7.            Newa, Yokie,: Free Radicals Invite Death, February 1997, .NTV Publisher
8.            Newa, Yokie.: Drugs Do Not Cure Disease, April 1997, Personal Care Co., LTD.
9.            Suherman,: Manfaat “Virgin Coconut Oil” bagi kesehatan masyarakat. Kompas, 13 April 2004
10.          Ravnskov, Uffe, The Cholesterol Miths, Exposing the fallacy that saturated fat and cholesterol cause heart diseases, New Trens Publishing, Inc. Washintong, DC, 2003
11.          Setiadji, A.H. Bambang, Memancing Minyak dengan Minyak Kelapa, TEMPO, 18 Juli 2004

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Office:

Jl. Mangkuyudan 43 Yogyakarta

LAGU

divine-music.info
%d blogger menyukai ini: